Liukan Lidah Naga di Atas Batu

Empat ribu tahun silam seni shanshui penjing mulai berkembang di daratan Tiongkok. Batu dan tanaman dipadukan di atas pot menjadi miniatur panorama alam. Pada shanshui penjing lazimnya tanaman berkayu yang dikombinasikan dengan batu. Di Solo, Jawa Tengah, Herry Hindratno, memadukan sansevieria dan batu menjadi pemandangan alam nan indah.

Di atas batu nan keras tampilan lidah naga—sebutan sansevieria—menjadi kian cantik. Mirip hijaunya oase di tengah gurun pasir atau pegunungan batu. “Daun yang hijau melembutkan kesan sangar pada batu,” kata Herry. Tengok saja sosok  Sansevieria patens dan S. fischeri yang tumbuh subur di atas batu asal pegunungan di Jawa bagian selatan.

Dua tahun silam Edi Sebayang di Tangerang, Banten, dan A Gembong Kartiko di Batu, Jawa Timur, juga menanam lidah mertua di atas batu. Bedanya unsur batu sebagai sekadar aksesori masih kuat.

Batu juga dipakai sebagai pembentuk kontur pada sansevieria yang ditanam berkelompok membentuk taman. Contohnya yang Trubus lihat di kontes sansevieria di Blitar, Jawa Timur, dan kontes sansevieria di Wonogiri, Jawa Tengah, pada 2008. Nah, teknik Herry beda karena batu dan sansevieria sama-sama menjadi elemen utama. Komposisinya bisa 50:50 bahkan 70% batu.

Harus subur
Menurut Ir Arie Wijayanti Purwanto MP, ahli fisiologi tumbuhan di Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta, sansevieria tergolong tanaman bandel yang mampu beradaptasi pada beragam media. “Pada sansevieria mini dengan media minim hara, tanaman tetap bertahan hidup dengan mengurangi ukuran daun ketimbang normal,” katanya.

Pada kasus Herry, sansevieria yang tumbuh di atas batu bukan berarti tanpa media subur. Herry meletakkan batu pilihannya di atas media kaya hara agar lidah jin di atasnya tetap subur. Akar mampu menjangkau media karena pengusaha konveksi itu melubangi batu dengan besi lancip. “Sansevieria yang ditanam berumur 3 bulan yang sudah banyak akar. Dengan demikian stres tanaman bisa dihindari,” kata Herry. Akar dirapikan dan dimasukkan ke dalam lubang sehingga menjangkau media subur di bawahnya.

Teknik itu agak berbeda dengan yang dilakukan A. Gembong Kartiko dan Andi Solviano Fajar (baca: Tampil Eksotis di Atas Batu, Trubus Mei 2008). Gembong hanya melubangi batu setengahnya sehingga lubang di batu berperan sebagai pot.

Selaras
Menurut Herry tak semua sansevieria cocok ditanam di atas batu. “Pilih sanseveria yang karakter aslinya lambat tumbuh atau kecil. Jadi berukuran mini bukan karena dikerdilkan,” katanya. Dari kelompok daun tebal misalnya fischeri, patens, atau lavranos. Sedangkan dari kelompok daun tipis seperti pagoda dan hahnii. Tujuannya agar ukuran tanaman tetap selaras dengan ukuran batu yang dipilih.

Pada seni shanshui penjing di China—yang memakai tanaman berkayu—ukuran tanaman tetap proporsional dengan batu karena dipangkas. “Pada sansevieria daun tak mungkin dipangkas karena tampilan menjadi rusak,” tutur Huscen Achmad, trainer bonsai di Jakarta Selatan, yang juga mengoleksi sansevieria.

Kini di nurserinya di Jebres, Solo, Jawa Tengah Herry mengoleksi 100 sansevieria yang tumbuh di atas batu. Pada setiap batu hanya 1 jenis sanseveria ditanam supaya pertumbuhannya seragam. Pot yang digunakan dipilih yang tebalnya di atas 2 cm agar mampu menahan beban batu. (Destika Cahyana/Peliput: Tri Susanti)

Trubus,Januari 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengenal Sansevieria

SANSEVIERIA

Sansevieria atau lidah mertua adalah marga tanaman hias yang cukup populer sebagai penghias bagian dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Sansevieria memiliki daun keras, sukulen, tegak, dengan ujung meruncing.

Sanseviera dikenal dengan sebutan tanaman lidah mertua karena bentuknya yang tajam. Sanseviera tak hanya sebagai tanaman hias, tapi juga memiliki manfaat untuk menyuburkan rambut, mengobati diabetes, wasir, hingga kanker ganas. Sementara seratnya digunakan sebagai bahan pakaian. Di Jepang, Sanseviera digunakan untuk menghilangkan bau perabotan rumah di ruangan.

Dibanding tumbuhan lain, Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun, seperti karbondioksida, benzene, formaldehyde, dan trichloroethylene.

Sansevieria dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang, dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan.

Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen, sehingga tahan kekeringan. Namun dalam kondisi lembap atau basah, sansiviera bisa tumbuh subur.

Warna daun Sansevieria beragam, mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang mengikuti arah serat daun, tidak beraturan, dan ada juga yang zig-zag.

Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut.

Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid.

Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sansevieria

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

About Sansevieria

SANSEVIERIA
Sansevieria whose common names include: mother-in-law's tongue, devil's tongue, jinn's tongue, Bow String Hemp and snake plant, is a genus of about 70 species of flowering plants in the family Dracaenaceae, native to the Old World.

Etymology 
The genus was named in honor of Raimondo di Sangro (1710–1771), prince of San Severo in Italy. Spellings "Sanseveria" and "Sanseviera" are commonly seen as well, the confusion deriving from alternate spellings of the Italian place name.

Characteristics
There is great variation within the genus, and species range from succulent desert plants such as Sansevieria pinguicula to thinner leafed tropical plants such as Sansevieria trifasciata. Plants often form dense clumps from a spreading rhizome or stolons.

Foliage
The leaves of Sanseveria are typically arranged in a rosette around the growing point, although some species are distichous. There is great variation in foliage form within the genus Sansevieria. All sansevieria species can be divided into one of two basic categories based on their leaves: Hard leafed and soft leafed species. Typically, hard leafed Sansevieria originate from the arid climates, while the soft leafed species originate from tropical and subtropical regions.

Hard leafed Sansevieria have a number of adaptations for surviving dry regions. These include thick, succulent leaves for storing water and thick leaf cuticles for reducing moisture loss. These leaves may be cylindrical to reduce surface area are generally shorter than their soft leafed tropical counterparts, which are wide and strap-like.

Flowers
The flowers are greenish-white, produced on a simple or branched raceme. The fruit is a red or orange berry. In nature, Sansevieria flowers are pollinated by moths, but both flowering and fruiting is erratic and few seeds are produced. The raceme of Sansevieria is derived from the apical meristem and a flowered plant will no longer produce new leaves. Unlike plants such as agave which die after flowering, Sansevieria will simply cease to produce new leaves. The flowered plant will continue to grow by producing plantlets via its rhizomes or stolons.

Uses 
Rope and Traditional Uses
In Africa, the leaves are used for fiber production;in some species, e.g. Sansevieria ehrenbergii, the plant's sap has antiseptic qualities, and the leaves are used for bandages in traditional first aid.

Ornamental Purposes
A variegated cultivar of Sansevieria trifasciata (namely 'Laurentii'), the most common Sansevieria in cultivation

Several species are popular houseplants in temperate regions, with Sansevieria trifasciata the most widely sold; numerous cultivars are available. The Chinese usually keep this plant potted in a pot often ornated with dragons and phoenixes. Growth is comparatively slow and the plant will last for many years. The tall-growing plants have stiff, erect, lance-shaped leaves while the dwarf plants grow in rosettes. As houseplants, Sansevieria thrive on warmth and bright light, but will also tolerate shade. Sansevieria can rot from over-watering, so it is important that they are potted in well-drained soil, and not over-watered. In Seoul, potted Sansevieria is commonly presented as a gift during opening ceremonies of businesses or other auspicious events.

Other Sansevieria species are less common in cultivation, but another beautiful species is Sansevieria cylindrica which has leaves which look quite different from S. trifasciata, but is equally tough.

Air Purification
Like the Golden Pothos (Epipremnum aureum) and Corn Plant (Dracaena fragrans), Sansevieria species are believed to act as good air purifiers by removing toxins (such as formaldehyde, xylene and toluene) from the air, thereby gaining a reputation as a good cure for sick building syndrome. Some reports seem to suggest that Sansevieria produces oxygen at night which makes it suitable as a plant to be placed in the bedroom.

Feng Shui
Because their leaves grow upwards, Sansevieria can be used for Feng Shui purposes as well. Some believe that having Sansevieria near children (such as in the study room) helps reduce coarseness, while others recommend placing pots near the toilet tank to counter the drain-down vibrations.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS